cerpen



Sang Pelita Jiwa

Terangkai sajak rindu dalam kalbu yang membelenggu. Hanya untaian doa yang mampu ku persembahkan untuk sang pelita jiwa yang menghamparkan cinta dan kasihnya. Sinarmu tak pernah redup tergilas masa. Meski ribuan badai menerjang keteguhan dalam jiwa.
“ waduh pak Hasyim sudah berangkat? Rajin sekali pak…!!!” sapa pak Kardiman.
“ Iya pak, monggo!!!” jawab ayahku sambil mempercepat langkahnya.
            Tak terhitung langkah demi langkah yang kau persembahkan kepadaku. Tak sedikit pun terdengar dari lisanmu kata mengeluh. Kau sembunyikan rasa lelah yang menyelimutimu. Kau balut ribuan luka dengan kain sutera. Dan kau bingkai rasa sedih dengan senyum tulusmu.
“ Ayah kenapa ayah jarang ada di rumah. Dan kenapa ayah sering meninggalkanku dan ibu???” Tanyaku sewaktu kecil. Ayahpun menjawabnya dengan penuh kelembutan “ itu karena ayah sayang kepadamu!!!” aku hanya terheran tak mengerti, dan bertanya lagi “ kalau ayah sayang kepadaku, seharusnya ayah selalu berada bersamaku dan menemaniku bermain setiap hari!!!” ayahpun menjawab “ kan ada kakak, kalau ayah di rumah terus kamu sama kakak makan apa? Terus kakak dan kamu gak bisa sekolah”.
“ Kenapa begitu, yah???”
“ Suatu saat kamu akan mengerti sayang”.
            Tersembunyi jauh dalam bilik kalbu terdalammu, sebuah pelita cinta yang tak ternilai oleh apapun. Umurku pun semakin beranjak begitupun dengan usiamu. Semangatmu semakin membara dikala aku telah menginjak remaja.
“ Sekarang Haura udah besar, saatnya kamu masuk SMA. Tapi ayah ingin kamu SMAnya di Pesantren saja, agar kamu dapat dua-duanya supaya seimbang”. Harap ayah.
“ Tapi, bukannya biayanya semakin membengkak ayah”.
“ Gak papa, kamu gak usah khawatir, yang penting doakan ayah saja supaya rejekinya lancar”.
“ Amien…!!!”
Meski hati ini terasa berat, tapi ku tak mampu membohongi diriku yang sebenarya menyimpan banyak asa yang bersemanyam dalam jiwa. Menerima pun bukanlah hal yang seutuhnya baik bagiku jika melihat usia ayah yang semakin senja dan dalam posisi yang tak sepenuhnya sehat. Apalagi menolak, itu adalah suatu hal yang akan menyakiti perasaannya dan menghancurkan harapannya. Dengan hati riang nan bercampur haru akupun mematuhinya.
            Di masa senjamu seharusnya adalah masa di mana kau istirahat. Tapi ternyata kau semakin memeras keringat untuk membuatku bahagia. Tak pernah ada kata cukup yang terungkap dari lisanmu.
“ Nak, kapan ujian akhir sekolahnya???” tanyamu saat ku menginjak akhir sekolah SMA.
“ Insyaalloh bulan April, yah”.
“ Sudah dekat ya, terus berapa biayanya biar ayah bisa dikit demi sedikit menabung”. Terbesit dalam hati ini bahwa sesungguhnya aku tak kuasa melihat ayah siang malam mendorong grobak bakso demi mempertahankan sekolahku. Meski hujan badai menerpanya tak pernah jadi masalah.
“ Masih belum ada infomasi, yah!!!”
“ Oooo, kalau sudah ada informasi cepat bilang ya nak”.
“ Iya ayah….!!!”
            Seperti apakah sebenarnya sukses itu, kenapa semua orang berlomba-lomba menjemputnya. Begitu dengan kau, kau pertaruhkan raga dan jiwamu untukku agar aku mampu menggenggam kesuksesan itu. Ingin rasanya aku memelukmu, tapi kebersamaanku denganmu tergilas keadaan. Kau ada saat ku tak ada dan kau tak ada saat ku ada. Aku hanya mampu memeluk malaikatku yang selalu bersabar menantikanku dalam kesepiannya.
            Masa SMA pun berakhir, kebahagian menyelimuti hati teman-temanku begitu pula denganku. Persiapan menuju bangku perkuliahpun dimulai. Ribuan lulusan berduyun-duyun dari berbagai pelosok daerah menuju Universitas yang mereka dambakan. Tapi tidak bagiku karena aku tau akan keadaanmu. Aku tak ingin membuatmu semakin terbebani dengan keinginanku yang setingi angkasa dan seluas samudera. Tapi ku tak mengerti akan apa yang kau pikirkan.
“ Nak kuliyahnya yang dekat-dekat saja jangan jauh-jauh, soalnya ayah sama ibu sudah tua…!!!”
“ Kuliyah…???” tanyaku terkejut.
“ Iya kuliyah. Tapi jangan jauh-jauh, biar ayah mudah menengoknya…!!!”
Aku hanya mampu terdiam, dan menundukkan kepala.
            Sungguh hatimu begitu bening ayah. Binar matamu menyimpan ribuan harapan padaku. Kau tanam dalam jiwaku semangat yang membara. Tuk dapat menggenggam matahari. Hingga tibalah saat di mana aku akan menjadi bintang yang berkilau diantara rembulan yang berseri ditengah malam yang sunyi.
“ Pak bakso pak bakso…!!!” teriak seorang mahasiswa. Berhentilah seorang penjual bakso di depan Mahasiswa itu.
“ Pak baksonya 3 dibungkus ya pak…!!!”
“ Oh ya sebentar ya nak, baru dari toko buku ya nak???”
“ Iya pak, kebetulan ada buku yang baru terbit. Bagus lagi…!”
“ Iya??? O iya anak saya juga suka baca!!!”
“ Anak bapak sekolah atau kuliyah…???”
“ Kuliyah nak, dia seusia kalian!!!”
“ Kuliyah di mana pak???”
“ Di Institut Agama Islam swasta nak, ini baksonya sudah selesai…!!!”
“ O iya pak, terimakasih. Ini pak uangnya, kembaliannya buat bapak aja. Buat beli buku untuk anak bapak…!!!”
“ Terimakasih ya nak.”
“ Iya pak, mari…!!!” pembeli itu beranjak.
            Dan pada keesokan harinnya, kebetulan aku tengah berada di rumah “ Haura bapak kemarin bertemu Mahasiswa seumuran kamu di depan toko buku. Mereka baru beli buku dan katanya ceritanya bagus dan baru terbit. Terus ayah ingat kalau kamu suka baca. Jadi ayah beli buat kamu. Tapi sayang ketinggalan. Maafkan ayah ya…!!!”
Aku tersenyum “ Iya ayah, gak papa. Kan gak harus sekarang bacanya!!!”
“ Oh ya ayah, aku minta izin, besok aku mau ikut seminar di Jepara!!!”
“ Iya, ayah mengizinkan. Hati-hati…”.
“ Siap ayah…!!!”
            Hari esok pun telah tiba, aku pun bersiap-siap dan segera melaju ke tempat tujuan. Berbekal doa ayah akupun tak merasakan sedikit kekhawatiran.
Dan tibalah aku di tempat tujuan “ Assalamualaikum. Anda Haura kan??? Penulis yang baru menerbitkan buku perdanannya itu, ya…!!!”
“ Iya saya Haura!!!”
“ Selamat ya!!!”
“ Iya terimakasih!!!”
Terdengar namaku di panggil “ Kepada saudari Haura untuk menempati tempat yang telah disediakan…..”
Aku pun duduk di podium, dan terlihat ratusan orang dihadapanku. Rasa gemetar dan nervous menyelimuti diriku. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa aku akan berada di tempat ini bukan untuk menjadi pendengar melainkan sebagai narasumber. Aku bertanya-tanya dalam hati “ apa benar ini aku, yang duduk di hadapan ratusan orang ini” aku seolah tak percaya dengan yang terjadi padaku kala itu.
            Menyusuri gang demi gang dengan gerobak bakso bukanlah hal yang asing lagi untukmu. Tapi itulah sebuah bukti perjuangan cintamu.
“ Pak, bakso…!!!”
“ Berapa, pak???”
“ Dua saja pak…”
“ Sebentar ya pak…”
Tak lama kemudian bakso pun siap disantap pembelinya. “ silahkan pak!!!” bakso itu berpindah tangan. Terlihat di atas meja sebuah Koran yang memperlihatkan seorang foto seorang gadis cantik yang tak asing bagi seorang penjual bakso itu. Berbisik dalam hatinya “ lho itu kan fotonya Haura terus kok ada gambar buku yang ku belikan itu, ya??????”
“ Kenapa, pak. Kok diam saja, ini uangnya….”
“ gak papa pak, korannya masih dipakai???”
“ Oooo, endak pak. Lagian itu Koran kemarin. Bawa aja pak…!!!”
Diambillah Koran itu.
            Minggu pekan pun telah tiba, saatnya ayah pulang. Meski itu hanya sekejab. Dan di pagi yang menyejukkan itu ayah mengajakku berbincang sedikit “ Haura ayah mau Tanya, boleh ???”
“ Iya ayah. Silahkan….!!!”
“ Ayah heran, kok kamu bisa ada di Koran???”
“ Ooooo itu ayah. Itu Haura yang pas ikut seminar di Jepara, kan Haura narasumbernya, yah…” jelasku
“ Oh ya…?????????” ayah tak percaya.
“ Benar ayah…!!!” aku meyakinkan.
“ oh ya buku yang ayah belikan itu, sebentar ayah ambilkan dulu”. Beranjaklah ia mengambil buku itu.
Beberapa menit kemudian “ ini bukunya, semoga kamu suka…”
Berpindahlah buku itu ke tanganku. Aku pun terkejut “ Ayah tau gak pengarangnya siapa???”
“ Ya gak tau lah ayah, kamu baca sendiri....”
“ Ayah kiranya percaya apa gak kalau pengarangnya aku, yah???”
“ Udah baca aja, jangan kebanyakan menghayal…” ucap ayah santai.
“ Haura gak menghayal ayah, coba lihat nama pengarangnya Hauratul Jannah terus ini biografinya. Ini anak ayah, ini semua karena perjuangan ayah, sehingga aku mampu menjadi penulis, sesuai harapanku dan harapan ayah juga. Sebenarnya aku menyembunyikannya dari ayah, karena aku ingin membuat kejutan pada ayah”. Ucapku semangat.
“ Walah sebenarnya itu juga kejutan buat Haura dari ayah, tapi ternyata itu karanganmu sendiri, lucu….”
“ Ha ha ha ha ha ha ha ha…” kami berdua tertawa.
“ Oh ya ayah pekan depan ayah ikut aku ya, menghadiri acara penerimaan penghargaan atas buku ini!!!” pintaku dengan penuh harap.
“ Ayah malu, gak pantas ayah datang ke acara seperti itu. Ayah kan Cuma tukang bakso”.
“ Terus kenapa??? Tukang bakso juga manusia ayah!!!!!”
“ Ayah nanti malah malu-maluin!!!”
“ Aku gak malu kok yah. Aku malah bangga punya ayah seperti ayah ini. Ayah itu pahlawanku. Kalau bukan karena ayah aku gak akan bisa sampai seperti ini”. Ayah tetap saja menolak. “ Ayolah ayah, aku mohon…!!! Kalau ayah gak mau, Haura gak akan pergi”.
“ Iya ayah mau…” akhirnya ayah menerima ajakanku.
             Akhir pekan pun tiba, “ Ayah ayo berangkat!!”
“ Ayah gak jadi ikut ya, malu ayah…”
“ Ayah, ngapain malu sich. Gak usah malu, ayooo”
Dan pada akhirnya kita pun beranjak ke tempat tujuan. Setiba di sana aku berjumpa dengan banyak penulis terkenal. Terutama dengan penulis idolaku Andrea Hirata, Habibur Rahman El shirazy, dan Asma Nadia. Aku serasa bermimpi, dan terdengar suara menyapaku “ Haura, gimana kamu punya kabar???” sapa Hamid.
“ Alhamdulillah baik mas!!!”
“ Lho, bapak??? Bapak yang penjual bakso yang ketemu di depan toko buku itu ya”. Ayah mengangguk
“ Mas kenal??? Ini ayah Haura mas…!!!”
“ Oh ya????? Subhanallah pak, anda benar-benar hebat. Mampu melahirkan seorang penulis multi talenta”. Ayah hanya tersenyum. “ Selamat ya pak!!!” dan kami pun mencari posisi tempat yang nyaman.
“ Nah langsung saja kita memasuki acara inti, acara yang kita nantikan. Yaitu pemberian penghargaan kepada penulis yang mendapatkan penghargaan Best Seller di tahun ini”. Terdengar MC membacakan susunan acara. Suara yang begitu terasa menggetarkan jiwa para penulis di gedung itu.
“Nah inilah dia, penulis satu ini baru menerbitkan buku perdanannya dan tanpa disangka-sangka telah mampu bersaing hingga mendapatkan predikat best seller, siapakah dia? Hauratul Jannah!!!!” oke kepada Hauratul Jannah dimohon untuk naik ke atas panggung”. Aku pun beranjak menuju panggung dengan hati yang penuh haru.
“ Ya inilah Hauratul Jannah, kepada Menteri Kebudayaan kami persilahkan untuk memberikan penghargaan!!!” berpindahlah teropi itu kepadaku.
“ Yaaa, tepuk tangannya yang meriah, mungkin ada yang perlu disampaikan? Silahkan!!!”
“ Assalamu’alaikum. Puji syukur atas rahmat dan nikmat yang telah Alloh berikan. Dan ucapan terimakasih kepada keluarga tercinta, terutama kepada ayah yang penuh akan perjuangan untuk mengantarku agar bisa seperti ini. Tak lupa pula ucapan terimakasih kepada guru-guru dan teman-temanku yang telah memberikan dukungannya. Cukup itu saja dari saya, assalamu’alaikum wr. wb .”
Tepuk tangan meriah pun terdengar memenuhi tempat itu.
            Sungguh cintamu mengalahkan segalanya. Tak ada badai yang mampu menerjang ketulusan hatimu. Tak ada pisau yang mampu memutuskan akan untaian-untaian doa yang mengalun syahdu di siang dan malammu. Terimakasih ayah hatimu bak Kristal yang berkilau di sepanjang hidupku. Senyummu menyimpan kesejukan penuh makna. Air matamu menyapu hangat noda hitam dalam kalbuku. Dan kesabaranmu menyisakan kerinduan yang membelenggu.


……SEKIAN……

HERWININGSIH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram