Cahaya

Sebulan lamannya ia menjadi seorang pengajar di sebuah pesantren yang terletak di daerah Pacitan. Hari-harinyapun kian padat. Sehingga dirinya tidak memiliki kesempatan pulang ke kampung halamannya. Dan suatu ketika ia mendapat kabar bahwa ibunya dalam keadaan sakit. Pemuda inipun memutuskan pulang demi merawat sang ibu. Saat berpamitan kepada pengasuh ia mendapat pesan untuk segera kembali setelah sang ibu sembuh. Mengingat padatnya kegiatan santri yang perlu adanya pantauan dari para asatidz.

Setelah menemui pemgasuh iapun segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas pulang.
            Ketika matahari pagi telah menyingsing setinggi tombak menunjukkan tibanya waktu dhuha. Masih terlihat jelas di sebuah rumah nampak seorang pemuda yang masih terlelap dalam tidurnya.
“ Nizar bangun... matahari sudah tinggi!” terdengar suara lantang seorang wanita dari arah dapur. Pemuda itu hanya menggeliyat. Dan tak lama kemudian perempuan itu menggedor pintu kamar pemuda itu “ Dor... dor... dor...”
Karena jengkel dengan pemuda tersebut, perempuan itupun masuk ke dalam kamar dengan membawa segayung air dan menyiramkannya pada si pemuda.
Pemuda itupun terkejut dan seketika terbangun “ Ah ibu...” gumamnya
“Shalat nak shalat! Kamu ini lulusan pesantren. Masak waktu shalat saja lalai” ucap perempuan itu jengkel. Dan akhirnya pemuda itupun bangun.
            Di tengah pagi yang cerah begitu terasa menyejukkan hembusan angin mengisi suasana hari. Jauh di seberang, terlihat seorang gadis berkaca mata berdiri di tepi jalan dengan tangan melambai. Sesaat kemudian tepat di hadapannya sebuah mobil berhenti. Sesegera mungkin ia masuk dan mengisi kursi yang masih kosong. Dan tepat di depan gedung besar bertuliskan Universitas Negeri Malang mobil yang ditumpanginya berhenti. Dengan langkah cepat iapun turun dan memasuki gedung itu.
“ Nafisah...!” langkahnya terhenti ketika terdengar suara perempuan memanggilnya.
“ Eh iya Tania...! Maaf ya tan, aku buru-buru nih. Sampai ketemu nanti ya!” Ia melangkahkan kakinya dengan cepat.
***
            Dalam malam yang hening terlihat seorang pemuda yang tengah larut dalam sujudnya. Terdengar suara perempuan yang tengah terbatuk-batuk menghentikan ritual si pemuda. Pemuda itu menghampiri dengan segelas air putih di tangannya. Perlahan ia meminumkannya pada perempuan itu.
 “ Halim, ibu sudah tua dan sering sakit-sakitan. Selalu saja merepotakan kamu dan ayah kamu...” ucap perempuan itu.
“ Ibu, yang sabar ya... ibu harus yakin bahwa ibu pasti sembuh..!” pemuda itu menenangkan.
“ Amien..!”
            Dalam sebuah kamar yang berisikan Lemari besar dengan puluhan kitab klasik dan puluhan buku pengetahuan yang tertata rapi. Nampaklah seorang gadis yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara perempuan tua memanggilnya “ Nafisah...”. Iapun bangun dari tempat tidurnya, dan menghampiri perempuan tua itu.
“ Ada apa, nek?”
 “ Kata ayah kamu tadi suruh menggantikannya mengajar di kelas 2 ulya putri” jelas perempuan tua itu.
“ Memangnya ayah kemana?”
“ Ayah kamu di ajak kakekmu sowan ke rumah temannya di Pacitan. Ayo cepetan anak-anak sudah nunggu itu...”. Nafisah mengangguk.
***
            “ Koran... koran..., koran pak, buk...” terdengar keras dari depan gerbang rumah. Mendengar suara itu, seorang lelaki gemuk keluar dari rumah dan berjalan ke arah penjual koran itu. Koran itupun dibelinya. Setelah itu iapun duduk di teras dan membaca koran yang baru dibelinya itu. Tak lama kemudian keluarlah seorang pemuda dengan penampilan rapi. Ia menghampiri lelaki gemuk itu. “ Yah Nizar kuliyah dulu...” ucapnya.
Lelaki itu hanya mengangguk.  “ Mata kuliyah kamu sampai larut malam?” tanya sang ayah dengan sedikit mengintrogasi.
“ Ayah kan tau aku aktifis... hehehe” jawabnya cengengesan.
“ Aktifis ya aktifis tapi shalatnya jangan dilupakan seperti itu...” sahut sang ibu dari dalam rumah. Sang ayah hanya geleng-geleng kepala mendengar sahutan itu. Dengan nada santai iapun berkata “ Mentang-mentang mahasiswa, tuhan diduakan dengan Aries Toteles, Plato, Emile Durkheim dan kawan-kawannya itu...”
Nizar hanya tertunduk diam tidak berani menatap ayahnya yang terlihat kecewa pada dirinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia hanya terpaku pada kehidupan para filsuf tanpa menghiraukan kewajibannya sebagai makhluk.
“ Sudah berangkat sana...” ucap sang ayah. Tanpa berkata apapun iapun berangkat dengan memacu motornya.
***
            Sebulan lamanya Halim merawat sang ibu. Keadaan sang ibupun akhirnya membaik. Iapun memutuskan untuk kembali ke pesantren untuk melaksankan tugasnya sebagai seorang santri dan pengajar.
“ Jadilah contoh yang baik buat murid-muridmu di sana!” pesan sang ibu saat ia hendak berangkat.
“ Insyaallah bu, dan semoga ibu selalu sehat di rumah dengan ayah” jawabnya seraya mencium tangan ibunya. Sebenarnya jauh dalam hatinya yang paling dalam, ia tak ingin meninggalkan sang ibu. Namun karena tanggung jawabnya yang besarlah yang mengharuskannya untuk tetap kembali ke Pacitan. Iapun pergi, terlihat tangan sang yang melambai kepada dirinya.
            Saat jam istirahat tiba Nafisah selalu duduk di bawah pohon rindang untuk melepas penatnya. Tak lama kemudian Tania datang menghampiri dan duduk di sampingnya “ Fis, kamu nanti bisa datang?” tanya Tania pada Nafisah.
“ Acaranya sampai malam gak?” Nafisah balik bertanya.
“ Pastinya lah, fis”
“ Mana boleh aku sama ayah, malah tadi beliau pesan kalau pulang jangan malam-malam, gitu”.
“ Aduh, padahal semuanya mengharap kamu datang lho...”
Lain kali saja ya, insyaallah aku usahakan bisa datang”
Terlihat raut wajah Tania yang kecewa pada Nafisah. Tapi karena ia mengerti keadaan dan posisi Nafisah, maka ia tak memaksa Nafisah agar tetap ikut.
“ Ya sudahlah, aku gak maksa kalau gak bisa”
Nafisah tersenyum. Dan akhirnya Taniapun pergi meninggalkan Nafisah sendirian.
            Dan saat waktupun sudah mulai sore Nafisahpun pulang. Tepat di depan gerbang ia bertemu dengan Nizar. Dengan tersenyum Nizar berkata pada Nafisah “ Gak ikut acara nanti...?”
“ Aduh maaf ya! Saya gak bisa kalau nanti, kapan-kapan saja ya. Insyaallah saya bisa hadir, mahon maaf sudah mengecewakan”.
“ Oh iya gak papa, lain kali saya tunggu..! saya selalu mengharap kedatangannya”.
Nafisah tersenyum, dan akhirnya iapun pergi meninggalkan Nizar. Tanpa menoleh Nizarpun meneruskan langkahnya.
***
            Seusai shalat isya’ Nafisah segera menuju ruangan sang ayah. Dengan perasaan penasaran iapun masuk dan duduk tepat di depan ayahnya. Tak sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Sang ayah memindah posisi duduknya dari yang semula. Dengan posisi barunya itu sang ayah memulai pembicaraan.
“ Ayah mau tanya apakah kamu selama ini dekat dengan seorang pemuda?”
Belum pernah sama sekali yah, soalnya Nafis masih ingin fokus pada pendidikan dan mimpi-mimpi Nafis dulu” jawab Nafisah tegas.
“Ayah tau, tapi kamu bukan anak kecil lagi fis, kamu sudah harus berpikir tentang itu juga. Ayah selalu mengerti bahwa kamu masih mau melanjutkan pendidikan kamu. Tapi perempuan itu rawan fitnah nak, ayah juga gak akan memaksakan keinginan ayah padamu. Ayah memberi kamu kebebasan, hanya saja dengan syarat kamu sudah punya suami. Kamu jangan berpikiran bahwa bersuami akan menghambat belajarmu. Lihat kak nisamu, dia tetap bisa melanjutkan belajar sampai sekarang meski dia sudah bersuami. Silahkan kamu keliling dunia asalkan memenuhi syarat tadi itu supaya tidak terjadi fitnah di keluarga kita”
“ Iya ayah, Nafis mengerti maksud ayah. Tapi selama ini Nafisah belum pernah bisa cocok dengan siapapun”
Sang ayah tersenyum “ Karena kamu terlalu memilih”
“ Jelasnya untuk hidup selamannya harus memilih kan yah?”
Sang ayah membuka laci meja dan menyodorkan sebuah foto kepada Nafisah.
“ Kamu lihat foto pemuda itu, mungkin saja bisa cocok nak. Dia santri teman kakek di Pacitan namanya Halim. Dia pemuda yang tekun dan seorang ustadz di sana. Ayah rasa dia cocok denganmu” ucap sang ayah yakin.
Mendengar ucapan ayahnya itu, perasaan Nafisah semakin tak karuan. Dalam hatinya bergumam, mengapa ayahnya begitu yakin dengan pemuda di foto itu. Padahal dia belum tau benar seperti apa pemuda itu. Kebenaran tidak bisa dibuktikan hanya dengan pendapat orang. Nafisah ragu bahwa keputusan ayahnya itu benar. Iapun keluar dari ruangan ayahnya dengan perasaan yang bingung.
            Jam sudah menunjukkan pukul 21.00, acara keorganisasian itupun usai. Acara itu berlangsung sangat lancar. Firman begitu bahagia dengan keberhasilan acara yang dipelopori oleh temannya, yaitu Nizar.
“ Alhamdulillah acaranya berjalan lancar, zar!” ucap Firman senang.
Terlihat Nizar yang melamun dan tidak menanggapi ucapan Firman. Melihat kawannya itu Firman jengkel.
 “ Masyaallah, aku di kacangin...!” ucapan Firman mengejutkan Nizar.
“ Eh iya man, kamu bicara apa? acaranya lancar? Iya lumayan. Tapi masih ada yang kurang!” gumam Nizar.
“ Kurang apaan?” Firman merasa heran.
“ Yang hadir...”
Fiman diam sejenak mendengar perkataan Nizar. Dan tiba-tiba datang Andi yang ikut nimbrung seraya berkata  “ Jelas kurang lah, soalnya yang di harap-harapkan gak datang”. Firman masih bertanya-tanya tentang siapakah yang tidak datang dalam acara itu. Dan iapun tiba-tiba teringat.
“ Oooo... walah, ternyata kurang Nafisah ya? Pantesan puluhan hadirin tadi masih dibilang kurang. Jadi alasannya itu”. Andi menyambut dengan kelakar mendengar ucapan Firman.
“ Apaan sih kalian ini” Nizar tersipu malu, dan tidak terima dengan ucapan teman-temannya itu. Akhirnya iapun beranjak dari tempat duduknya menjauh dari teman-temannya.
Ia selalu berpikir antara salah ataukah benar jika sebenarnya ia benar-benar menyukai Nafisah. Padahal dirinya sadar bahwa ia tidak pantas bersama Nafisah yang begitu sempurna menurutnya. Ia merasa malu dengan keadaan dirinya itu.
***
            Tak hanya Nafisah yang mendapatkan foto Halim. Namun Halimpun juga sudah melihat foto Nafisah yang nampak begitu anggun. Dalam hatinya bertasbih sebagai bentuk kagum. Hatinya semakin bergelora saat Kiyai Wahid menyampaikan bahwa beliau menjodohkan Nafisah dengan dirinya. Kiyai Wahid Nampak begitu yakin dengan keputusannya itu. Hal tersebut dikarenakan Halim merupakan santri teladan dan kesayanganya. Beliaupun berharap agar santri kesayangannya itu mendapatkan pasangan yang shalihah.
Setelah mendapatkan keputusan itu, ia tidak serta merta mengiyakan keinginan Kiyainya. Iapun memikirkan dengan matang-matang mengenai keputusan yang akan diambilnya. Apalagi Nafisah berasal dari keluarga yang disegani.
            Keesokan harinya dengan gugup ia menyampaikan kepada Kiyai Wahid bahwa dirinya setuju untuk dijodohkan dengan Nafisah. Dan tak lama kemudian Kiyai Wahid mengajaknya ke Malang untuk mempertemukannya dengan Nafisah. Saat mobil Kiyai Wahid memasuki gerbang, terlihat seorang gadis yang berjalan santai dengan sebuah kitab yang dipegangnya. Dan mobil itu berhenti tepat di hadapan gadis itu. Gadis itu berhenti, Kiyai Wahid membuka pintu seraya mengucap salam pada gadis tersebut
“ Assalamu’alaikum”
“ Wa’alaikum salam, monggo masuk!” Nafisah mempersilahkan tanpa melihat secara jelas siapakah tamunya itu.  Halim berjalan tepat di belakang Kiyai Wahid dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba Kiyai Wahid berkata pada si gadis “ Ini ya yang namanya Nafisah?”.
Iya saya Nafisah, kalau boleh tau dari mana ini ya?”
Saya teman kakek kamu dari Pacitan”
Nafisah tersentak kaget, ditambah melihat sosok pemuda di samping Kiyai Wahid yang masih tertunduk. Ia langsung tergelagap “ E.. e.. e.. silahkan duduk, sebentar saya panggilkan kakek dulu” Ia segera beranjak meninggalkan tamunya.
            Tak lama kemudian kakek dan ayah Nafisah datang. Merekapun berbincang hangat dengan ditemani hidangan khas Malang. Para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan sembari menunggu kedatangan Nafisah. Jantung Halim tak henti-hentinya berdetak tak teratur. Dirinya mulai salah tingkah saat Nafisah datang dan duduk tepat di depannya. Ia tak berani mengangkat kepalanya.
 “ Ini Halim yang ayah ceritakan padamu itu, ayah harap kalian bisa saling mengenal satu sama lain sebelum melangkah lebih jauh, bisa dibilang ta’arrufan lah” ucap ayah Nafisah dengan wajah bahagia. Nafisah hanya diam, terasa pikirannya yang berkecamuk. Dan seakan menolak itu semua. Namun demi membuat ayahnya bahagia, iapun mengiyakan keputusan itu. Meski ia tak yakin bahwa dirinya bisa bersama Halim.
***
            Tak kalah dilemannya dengan Nafisah, Nizarpun mulai dihantui dengan perasaan yang semakin menjadi-jadi. Hari-harinya semakin hampa dan iapun seringkali melamun. Ibunya bingung melihat tingkah anaknya itu. Nizarpun berterus terang pada sang ibu tentang apa yang tengah dialaminya. Sang ibupun menasehati dan memberikan arahan untuk sebaiknya menyampaikan perasaannya itu pada Nafisah.
            Saat didakan acara rutinan, seperti biasa Nizar selalu memberikan sambutan sebagai seorang pimpinan. Bertepatan saat ia menyampaikan sambutan terlihat Nafisah yang masuk ruangan dan mengisi kursi yang kosong. Nafisah tersenyum saat Nizar melihat ke arahnya. Iapun mengambil posisi nyaman untuk bersandar. Sesekali ia melihat ke arah Nizar yang tengah menyampaikan sambutan. Tiba-tiba terdengar pesan masuk dari ponsel Nafisah. Iapun membacanya.
Assalamu’alaikum...
bagaimana kabarnya antum di sana neng?
dan sedang apakah gerangan saat ini?
Nafisah membalasnya
Wa’alaikum salam...
kabar saya baik, dan saya ada di kampus.
Nizar yang melihat Nafisahpun menghampirinya dan duduk di sampingnya.
 “ Fis, aku boleh bertanya sesuatu?”
“ Silahkan... tidak ada larangan untuk siapapun yang mau bertanya”
“ Jika ada seorang lelaki yang bobrok perilakunya dan seringkali melupakan tuhannya apa pantas suka pada seorang gadis yang baik perangainya dan begitu istiqomah menjalankan syariat?”
“ Pantas. Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan tidak ada larangan bagi lelaki itu menyukai gadis tadi. Apalagi jika lelaki tadi mau membenahi dirinya. Memang mata melihat secara jelas bentuk luar suatu hal tapi hati yang lebih paham akan rasa yang tersembunyi”
“ Dan apa mungkin gadis tadi mau menerima lelaki tadi?”
“ Ikhtiar dulu baru tawakkal” jawab Nafisah tegas. Ucapannya itu membuat Nizar berpikir bahwa sebaiknya ia mengatakan tentang perasaan itu. Terdengar lagi bunyi pesan masuk di ponsel Nafisah menghentikan perbincangan mereka.
Lho jam segini masih di kampus?jangan terlalu malam ya…
Dan hati-hati…
Isi pesan itu begitu membuat Nafisah semakin bersalah. Karena selama ini ia tidak menghiraukan Halim. Ia hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri. Iapun membalas pesan itu, bahwa dirinya akan segera pulang. Melihat Nizar yang bingung Nafisah menambahkan “ Gak ada yang gak mungkin” Nafisah tersenyum.
***
 Waktupun mulai malam, namun Nafisah belum bisa terlelap. Dari arah pintu terdengar ada seseorang yang membuka pintu kamarnya.
“ Belum tidur?”
Ternyata orang itu Kiyai Anwar. “ Kakek, ada apa ke kamar Nafis?” tanyanya heran.
 Kiyai Anwar tersenyum. Kemudian ia bertanya mengenai Nafisah dengan Halim. Nafisah diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang kakek. Kemudian menjelaskan tentang semua yang berkenaan Halim. Bahwa dirinya belum bisa menerima Halim untuk menjadi pasangan hidupnya. Itu karena menurutnya Halim terlalu baik. Sedangkan dirinya tak pernah bisa meresponnya sebagai calon pasangan, melainkan sekedar teman biasa. Menurutnya jika perjodohan itu dilanjutkan akan merugikan salah satu pihak. Dan semakin lama Halim akan tersakiti dengan sendirinya. Karena Nafisah tidak pernah bisa mencintainya.
            Mendengarkan penjelasan cucunya yang gamblang itu, Kiyai Anwarpun mengerti. Dan tidak akan memaksakan cucunya itu. Iapun keluar dari kamar Nafisah.
***
Nizar merasa bahwa dirinya sudah tidak kuat lagi menahan perasaannya itu. Akhirnya, iapun memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Nafisah. Agar tak ada lagi kegundahan. Dengan tekad yang kuat iapun memberanikan diri menemui Nafisah di kampus. Saat itu Nafisah tengah asyik berbincang dengan teman-temannya di kantin. Nizar datang menghampirinya. Teman-teman Nafisahpun meninggalkan mereka berdua.
“ Boleh saya duduk di sini?” izin Nizar pada Nafisah. Nafisah mengangguk.
Dengan gugup Nizar mulai berbicara pada Nafisah. Di awali dengan keingin tahuanya terhadap kriteria seorang wanita dalam mencari pasangan hidup.
Nafisah membetulkan posisi duduknya “ Setiap wanita punya ciri khas masing-masing, juga punya kriteria masing-masing dalam memilih pasangan hidupnya. Jadi saya gak bisa menjawab dengan satu pandangan saja. Karena itu sifatnya perorangan bukan kolektif, sehingga nanti jawaban itu hanya akan mewakili satu orang saja” jawab Nafis santai.
“ Kalau ning sendiri?” Tanya Nizar ragu
 “ Panggil saja saya Nafis lebih enak. Saya adalah manusia yang selalu mengharapkan hal baik dalam hidup. Pastinya saya mengharap keempat elemen dalam mencari pasangan itu, terpenuhi seluruhnya. Tapi ketetapan tuhan tidak bisa dirubah, suatu hal yang kita pandang baik belum tentu baik menurut tuhan. Manusia hanya bisa berencana dan ikhtiar, untuk hasil cukup tuhan yang tau”.
Dengan menahan rasa malu Nizarpun mulai jujur bahwa dirinya menyukai Nafisah. Iapun menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang lelaki yang hampir-hampir melupakan tuhannya. Dengan jarangnya melaksanakan kewajiban sebagai makhluk. Dengan rasa malu yang tertahan ia ungkapkan tentang keinginannya untuk bisa kembali ke jalan tuhan. Nafisah gemetar saat mendengar ucapan Nizar. Hatinya seakan runtuh menyaksikan pengakuan yang tidak mudah itu.
“ Apakah mas Nizar menganggap saya adalah wanita paling suci? Tidak mas, memang mungkin orang melihat dzohir saya baik. Tapi sebenarnya batin saya tak sesuci yang mereka kira. Kesalahan saya terhadap sang khalik bagai tumpukan pasir yang tak terhitung. Siapapun berhak mencintai seseorang, karena itu anugerah tuhan.Gak ada larangan untukmu menyukai saya bahkan masih sangat pantas kamu menyukai wanita yang lebih baik dari saya”.
Nizar tidak berani mengangkat kepalanya. Pikirannya terombang-ambing.
 “ Sekarang giliran saya bertanya, apakah mas benar-benar menyukai saya dari hati dan karena tuhan? Jika benar, saya harap itu bukan sekedar omong kosong. Buktikan! Silahkan benahi shalatmu setelah itu datanglah ke rumah. Temui keluarga saya, ungkapkan semuanya di hadapan mereka. Kita bisa berbenah bersama untuk bisa menjadi makhluk yang pantas di hadapan tuhan”. Ucapan Nafisah yang kias namun jelas itu membuat Nizar terkejut bukan kepalang. Tak pernah terpikirkan bahwa dia akan mengatakan hal yang demikian padanya.
***
           



HERWININGSIH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram