Sabda Cinta


Oleh: Herwiningsih
Ocehannya masih sangat lekat terngiang dalam otakku. Penyampaiannya yang tegas, membuat hatiku bergejolak. Sampai pula aku dalam temaram kemarahan.
Di sudut ruangan aku terdiam menantikan kawan yang tak kunjung menampakkan hidungnya. Pandanganku lurus ke depan, terlihat sepasang kekasih yang tengah bercengkrama hangat.
Lalu pandanganku menembus jauh menyeberangi mereka.
Hobiku yang suka menjelajah menghantarkanku bertemu dengan sosok luar biasa. Tangankupun menjabat tangannya “Hilman” suaranya menembus telingaku. Dengan suara terbaikku akupun membuka mulutku “ Maria”. Pandangan kitapun saling bertemu, secepat kilat akupun melepas pandangan itu.
            Dari pertemuan itulah kamipun saling mengenal satu sama lain. Merasakan adanya kerinduan saat tak berjumpa. Merasakan kehilangan saat tak mendengar kabar satu sama lain. Itukah yang sering anak remaja katakan cinta?. Kekuatannya yang luar biasa, menjadikan orang yang merasakan melayang bukan kepalang. Rasa senang bersamanya memang membuat jiwa ini bergetar. Seakan dunia ini hanya milik kita berdua.
Hilman seringkali membisikkan kata-kata indahnya di telingaku. Membuat hatiku semakin bergejolak tak menentu. Bagai gulungan ombak yang menerjang karang.
“Maria!” akhirnya tibalah kawan yang aku nantikan.
“ Sedang apa kamu? Kok segitunya melototi pasangan itu”
“ Ah tidak, siapa yang melototi mereka, entar belekan mata ane” tawa kitapun pecah mengejutkan sepasang kekasih di seberang sana. Kitapun lari dengan mulut yang masih terkekeh-kekeh.

            Bunga yang dipetik pada akhirnya akan layu pula. Kesegarannya akan hilang seiring waktu. Di tengah kesibukan yang memadat, ponselku berdering tiada henti. Akupun tiada menghiraukannya. Saat itu aku tengah menyampaikan beberapa hal penting dalam sebuah forum mahasiswa. Ku lihat ada pesan masuk ke ponselku yang pasti dari Hilman. Pesan yang tertulis membuatku mengernyitkan dahi.
“ Saudara Maria…!” suara salah seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan persoalan perihal yang aku sampaikan. Akupun langsung menangkap pertanyaannya dan secara lugas menjawab. Ponselkupun tergeletak tanpa ku hiraukan. Satu persatu aku menjawab pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa padaku.
            Matahari terlihat meraba-raba meninggalkan hari. Aku berjalan dengan cepat melewati lorong-lorong kampus yang mulai hening dari kehidupan para mahasiswa. Berdiri tepat di depanku sosok pria tinggi, iya, dia adalah Hilman. Wajahnya yang memerah membuatku tergelagap. Aku mencoba tersenyum “Eh kamu…?”
Namun ia membalasku dengan mendamprat “ Dasar wanita liberal! Karir saja yang kamu perhatikan. Tapi tidak memiliki jiwa social” telunjuknya menuding wajahku.
“ Apa maksudmu? Kamu tidak tau apa yang aku lakukan di sana. Ada keperluan yang lebih penting dari pada aku harus menghampirimu”.
Hilman tetap saja menyambarku dengan umpatan-umpatanya. Akupun meninggalkannya tanpa menghiraukan apa yang ia ucapkan.
            Kawanku Mariska mengajakku makan, karena ia sudah tak kuat lagi dengan bunyi keroncong diperutnya. Dengan lahap ia menyantap makanannya. Aku hanya sekedar minum es teh untuk membasahi tenggorokanku. Menemani kawanku yang terlihat begitu kelaparan, aku sesekali meminum es tehku dengan pikiran menelisik jauh.
“Aku minta maaf jika aku salah, kemarin aku memang tidak bisa menemuimu”.
“Alaah itu hanya bentuk pembelaanmu saja. Aku tak peduli apa alasanmu”
Dirinya tetap bersikeras menolak maaf dariku, hingga aku tak tau lagi apa yang harus aku lakukan. Hanya umpatan yang keluar dari mulutnya yang mulai tercium kebusukannya. Aku diam tanpa berucap apapun padanya. Iapun beranjak dari depanku, aku tak menghalanginya pergi. Hatiku berkecamuk tak menentu. Kepercayaanku mulai memudar dari hati terdalamku. Namun rasanya aku masih ingin memperbaiki kesalahan yang aku lakukan padanya. Meski aku masih bingung akukah yang salah atau diakah yang egois?
            “ Maria…!” terdengar suara memanggil dari sudut kantin. Ku tatap orang itu dengan penuh selidik. Dengan cepat orang itu menghampiriku, dekat semakin dekat. Dan akhirnya iapun tepat berada di hadapanku. Ia mulai nyerocos tak menentu mengkaburkan pikiranku.
“ Ngomong apaan sih kamu, fin?” Mariska menghentikan  ocehan  Alfin. Aku hanya tersenyum melihat pertengkaran sengit dua orang itu sembari menyeruput segarnya es teh.
“ Sudah-sudah, seperti tikus dan kucing saja kalian ini. Malu dilihat banyak orang…!”
Alfin membelokkan pandangannya padaku. Tatapannya seakan banyak menyimpan misteri, perlahan ia menghirup napas kemudian dihembuskannya. Jantungku terasa berdetak lebih kencang, matakupun menghindari tatapannya yang tajam. Dahikupun mengkerut saat ia mulai membuka mulutnya.
“ Ada undangan seminar buat kamu Maria!” disodorkannya undangan yang ia bawa kepadaku. Akupun mengambilnya dan membaca isi undangan tersebut.
“ Sebagai tamu, ataukah jadi pemateri lagi, Maria?” Tanya Mariska penuh selidik padaku.
Senyumkupun cukup mewakili jawaban dari pertanyaan yang ia tanyakan.
“ Pemateri lagi pemateri lagi?” gumam Mariska sembari mengunyah makanannya.
 “ Ishh kau tak usah iri la, Mariska” tangkap Alfin
“ Siapa pula yang iri, fin”
“ Sudah-sudah tak usah bersilat lidah terus lah kalian ini, bikin pusing palaku saja”
“ Maaf…!”
Alfinpun undur dari hadapanku.
            Jam menunjukkan pukul 22.00 wib, matakupun sudah tak mampu lagi terbuka. Terdengar dering ponselku di samping dipanku. Ku raih ponselku dan ku jawab panggilan yang telah merusak istirahatku itu.
“ Hallo, Maria kemana saja kau tak membalas pesanku dan tak pula segera mengangkat telponku” suara kerasnya membuat telingaku sakit. Dengan penuh kesabaranpun aku menjawabnya.
“ Wa’alaikum salam, maaf aku ketiduran terlalu lelah”
“ Alasan saja kau ini! Segera hampiri aku di statiun aku mau pulang, buruan gak usah pake lama”
“ What statiun? Haduhhh jauh banget, mana ini juga sudah malam banget. Gak bisa minta tolong teman yang lain kah?”
“ Ya sudah kalau gak mau” ucapnya marah. Akupun tak menghiraukannya dan kembali beristirahat.
            Keesokan harinya, terdengar suara ketukan. Akupun menghampiri asal ketukan itu. Perlahan aku membuka pintu rumahku. Nampak seorang lelaki yang berdiri tepat di depan pintu rumah. “ Neng Maria, ini susu kedelainnya!” ucap lelaki itu sopan.
“ Iyaa pak terimakasih!” berpindahlah sekantong susu kedelai itu ke tanganku. Lelaki tua itupun meninggalkan rumahku dengan wajah berseri. Aku kembali masuk, dan bersiap-siap menuju kampus.
Terdengar klakson berbunyi di depan rumahku. Aku tau bahwa itu pasti Mariska, dengan terburu akupun segera keluar. Dan akupun terhenyak, ternyata dugaanku salah. Pintu mobilpun terbuka bersamaan dengan sosok lelaki dengan tubuh tegap, gagah dan tingggi yang keluar dari mobil itu.
“ Mau berangkat kuliyah?” sapanya lugas.
“ Iya dong paman, nyari ayah?”
“ Iya. Ayah kamu ada?”
“ Masuk saja paman, ayah ada di dalam”
Paman Hermanpun masuk.
            Aku membuka ponselku, dan ternyata Mariska tak dapat menjemputku. Akupun menghentikan satu taksi dan menaikinya. Setelah beberapa menit, taksi itu berhenti tepat di depan kampus. Akupun segera turun. Aku berjalan dengan tergopoh-gopoh untuk sampai kekelas. Tiba-tiba, tanpa diduga Hilman berdiri di hadapanku dan menyambarku dengan kata-katanya yang kasar dan penuh kemarahan.
“ Dasar wanita tidak punya jiwa social, wanita liberal, tidak tau kodratnya sebagai wanita. Dasar wanita jalang”
Air mataku terasa menggenang mendengar suaranya yang keras bak petir yang menyambar di siang bolong. Mulutku serasa terkunci, rasanya tak dapat lagi berucap. Namun, mulutnya masih saja berkomat kamit menghujatku penuh amarah. Dan akhirnya iapun pergi dengan kata terakhir “ Sekarang kita jalan sendiri-sendiri saja”. Aku tak mampu lagi menahan genangan air mataku. Dan akhirnya ku tumpahkan air mata itu, hatiku meronta kesakitan akan ucapan yang ia lemparkan padaku. Betapa sesal yang amat besar karena aku telah membuka hati untuknya. Orang yang tidak mengerti sebuah kesabaran dan kebebasan akan orang yang dicintainya.  Tubuhku lemas, seakan langit menimpa tubuhku yang kecil ini. Aku tak berdaya.
            Tiada lagi guna diriku berlarut dalam kesesalan, aku tersadar saat ku bersamanya. Aku melupakan cinta yang lain, yakni cinta yang maha besar. Cinta yang tak pernah pudar, cinta yang kekal, dan tak pernah terkikis oleh apapun. Karena cinta itu aku bernapas, karena cinta itu aku bergerak, dan karena cinta itu aku mampu memiliki semua ini. Tak pernah ada tekanan dalam cinta itu. Aku mampu berbuat apapun karena cinta itu, cinta yang tidak mengajarkan kebencian, kemarahan, dan keangkuhan. Aku menghapus semua tentangya dari memoriku. Aku kembali menutup hatiku, dan memilih focus dengan studiku yang tak lama lagi usai.
            Indahnya suasana sakral, yang terjadi mungkin hanya satu kali seumur hidup. Mengikat janji suci antara dua insan di atas ijab qabul yang menggetarkan jiwa. Nampaklah Mariska yang berseri-seri merasai kesenangan dalam jiwanya. Wajahnya yang memancarkan kecantikan luar biasa, membuat diriku merasa iri. Dengan senyum terindahku, aku memberikan selamat padanya dengan iringan doa untuk keberkahan keluarga barunya.
“ Ahhh Maria, terimakasih! Cepatlah kau menyusul pula yaaa” ucapnya penuh harap.
Aku tersenyum memandanginya. “ Lagian sudah mau lulus S1…” tambahnya.
“ Aku gandeng orang tua dulu laaa S1nya, baru nanti kalau sudah S2 aku gandeng suami”. Suasana itupun pecah dengan tawa kami. Terlihat seorang lelaki yang tersedak melihat kami dari sudut ruangan. Yang membuatku semakin terkekeh-kekeh.  
Akhirnya pada bulan Desember akupun lulus dengan mendapat predikat cumload. dan disusul pula dengan dinobatkannya diriku sebagai penulis sastra favorite tingkat nasional.
            Ruangan itu semakin sesak dipadati oleh para pelajar, baik dari kalangan menengah hingga mahasiswa. Aku terpana melihat kejutan super itu.

“ Kami persilahkan kepada saudara Maria, untuk menyampaikan materinya” suara moderator yang menggema, dan penuh kesopanan membuatku semakin terasa di awang-awang. Tak pernah ku sangka sebelumnya, bahwa aku akan berdiri di hadapan ribuan orang. Itu semua karena cinta-Nya. 

HERWININGSIH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram