Sebagai pemeluk agama islam sudahlah pasti
kita tak akan asing lagi dengan ormas terbesar islam yang berdiri di Indonesia
pada abad ke 19. Yang mana organisasi ini di dirikan oleh ulama besar Indonesia
KH. Hasyim Asy’ari sebagai washilah yang menjunjung tinggi Ahlus Sunnah wal
jama’ah. Organisasi yang benar-benar menggambarkan islam yang sesungguhnya.
Yakni hakikat islam yang cinta damai, ramah, dan saling menyayangi. Selain itu
NU juga merupakan washilah islam yang fleksibel dan mampu beradaptasi dengan
lingkungan yang menjunjung tinggi nilai kultural. Mengapa demikian, sebab
Indonesia adalah Negara dengan beragam suku dan budaya. Yang pastinya tidaklah
mudah untuk dipengaruhi oleh budaya-budaya asing. Dengan demikian kehadiran NU
adalah salah satu washilah dari para Wali songo yang menyebarkan agama islam di
tanah jawa dengan damai dan dengan keindahan kulturalnya.
Oleh: Herwiningsih
Ocehannya masih sangat lekat terngiang
dalam otakku. Penyampaiannya yang tegas, membuat hatiku bergejolak. Sampai pula
aku dalam temaram kemarahan.
Di sudut ruangan aku terdiam menantikan kawan yang tak
kunjung menampakkan hidungnya. Pandanganku lurus ke depan, terlihat sepasang
kekasih yang tengah bercengkrama hangat.
Lalu pandanganku menembus jauh menyeberangi mereka.
Hobiku yang suka menjelajah menghantarkanku bertemu
dengan sosok luar biasa. Tangankupun menjabat tangannya “Hilman” suaranya
menembus telingaku. Dengan suara terbaikku akupun membuka mulutku “ Maria”.
Pandangan kitapun saling bertemu, secepat kilat akupun melepas pandangan itu.
Dari
pertemuan itulah kamipun saling mengenal satu sama lain. Merasakan adanya
kerinduan saat tak berjumpa. Merasakan kehilangan saat tak mendengar kabar satu
sama lain. Itukah yang sering anak remaja katakan cinta?. Kekuatannya yang luar
biasa, menjadikan orang yang merasakan melayang bukan kepalang. Rasa senang
bersamanya memang membuat jiwa ini bergetar. Seakan dunia ini hanya milik kita
berdua.
Hilman seringkali membisikkan kata-kata indahnya di
telingaku. Membuat hatiku semakin bergejolak tak menentu. Bagai gulungan ombak
yang menerjang karang.
“Maria!” akhirnya tibalah kawan yang aku nantikan.
“ Sedang apa kamu? Kok segitunya melototi pasangan
itu”
“ Ah tidak, siapa yang melototi mereka, entar belekan
mata ane” tawa kitapun pecah mengejutkan sepasang kekasih di seberang sana.
Kitapun lari dengan mulut yang masih terkekeh-kekeh.
Oleh: Herwiningsih
Siapa yang tak mengenal sebuah organisasi
yang cukup sentral yang bernamakan PMII. Organisasi yang berdiri di kalangan
mahasiswa sejak tahun 1960, tepatnya pada tanggal 17 April di Surabaya. Selain
berazaskan pancasila dan berfaham Aswaja, organisasi ini juga memiliki tujuan
yang membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi
luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan
komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Tak hanya itu, PMII juga memiliki nilai dasar
pergerakan. Diantaranya yakni Hablum minallah, Hablum minannas, dan Hablum
minal alam.
Sebulan lamannya ia menjadi seorang
pengajar di sebuah pesantren yang terletak di daerah Pacitan. Hari-harinyapun kian padat. Sehingga dirinya tidak memiliki
kesempatan pulang ke kampung halamannya. Dan suatu ketika ia mendapat kabar
bahwa ibunya dalam keadaan sakit. Pemuda inipun
memutuskan pulang demi merawat sang ibu.
Saat berpamitan kepada pengasuh ia
mendapat pesan untuk segera kembali setelah sang ibu sembuh. Mengingat padatnya
kegiatan santri yang perlu adanya pantauan dari para asatidz.
Berjajar pilar-pilar Idiologi penuh
makna, menyuarakan akan kebenaran tanpa batas. Disuarakan dari berbagai agama
yang menjunjung tinggi sebuah arti kebenaran nan elok terdengar syahdu di
telinga penganutnya. Saat agama menyerukan akan dirinya “ Aku bukanlah pemisah
antara kau dan dia, tapi aku adalah sebuah pilihan dalam meraih tujuan dan
menyongsong kemilau sebuah permata. Namun, seruan itu hanya angin lalu tanpa
ada rasa hirau darimu. Kau sibukkan dirimu dengan pertikaian dan permusuhan.
Terkisah dari berbagai Idiologi yang
berbeda. Terangkai dalam ulasan kata bersenandung rasa. Dua sahabat dengan
perbedaan Teologi, hingga mengantarkannya ke jalan pertikaian.
“ Amir, kamu mau
kemana?” Tanya Farhan.
“ Aku mau
tahlilan…!!!” jawab Amir.
“ Tahlilan???
Itu bid’ah, Amir…” ungkap Farhan.
“ Iyalah, apa
kata lho…” ucap Amir sambil berlalu dari hadapan Farhan tanpa menghiraukan apa
yang dikatakannya. Bagi Amir itu tak
perlu dipertikaikan, selama dirinya punya Imam dan tau akan dasarnya.
Alunan syahdu yang menyapa hati
bagaikan misteri tanpa henti, mengukirkan sebuah cerita penuh makna. Merangkai
ungkapan-ungkapan yang tak disangka, mencoba meluluhkan hati dalam keheningan.
“ Zahra ada
telpon tuh di hp mu?”
“ Siapa?” “
Mungkin Ahmad…” “ oooo”
“ Kok Cuma
ooo???” Aira heran, Zahra hanya tersenyum dan mengambil handphonenya dan
menghubungi kembali Ahmad “Halo… assalamualaikum” “ Waalaikum salam..”
“ Ada apa
mas?” tanya Zahra lembut “ Sedang apa? Masih sibuk?” Tanya Ahmad
“ Ehmm ya
lumayan?” jawab Zahra sedikit ragu “ Ooo ya sudah nanti aku hubungi lagi,
lanjutkan saja, nanti kalau sudah tidak sibuk hubungi ya…” ucap Ahmad penuh
harap
“ Insyaalloh,
mas” “ Assalamualaikum”. “ Waalaikum
salam warahmatulloh” Zahra menutup telponnya.
Berbincang soal sastra merupakan menu spesial di dalam konteks budaya
Indonesia yang mulai menghilang dari permukaan. Mengenali sastra merupakan
salah satu hal yang perlu ditumbuhkan kembali dalam jiwa generasi muda sebagai
penerus bangsa. Disamping sebagai bentuk keindahan dan kreatifitas, sastra juga
merupakan bentuk kekayaan Indonesia yang perlu dilindungi dan dipertahankan. About Me
Popular Posts
-
Oleh: Herwiningsih Siapa yang tak mengenal sebuah organisasi yang cukup sentral yang bernamakan PMII. Organisasi yang ...
-
Sebagai pemeluk agama islam sudahlah pasti kita tak akan asing lagi dengan ormas terbesar islam yang berdiri di Indonesia pada abad ke ...
-
Kampus merupakan salah satu tempat menimba ilmu yang berada di jenjang pendidikan paling tinggi. Penghuninya pun tidak lagi berna...
-
Baju lusuh itu masih menggantung pada paku yang tertancap di dinding kamar. Baunya menyengat menyisakan gelagat perjuangan ...
-
Seruling Cinta Ku simpan selalu seruling cinta yang membingkai dalam dadaku Menancap tajam bersama anganku ...
-
ETIKA AKURASI INFORMASI DALAM BINGKAI ISLAM (Herwiningsih) Dalam setiap menit kehidupan pasti akan terjadi sebuah peristiwa tak ter...
-
Berbincang soal sastra merupakan menu spesial di dalam konteks budaya Indonesia yang mulai menghilang dari permukaan. Mengenali sastr...
-
Judul: Kinasih Penulis: Nisaul Kamilah Chisnulloh Penerbit: Telaga Aksara Cetakan: Ke 1 Ukuran: 14×20,5 cm Jumlah Halaman: 20...
-
Alunan syahdu yang menyapa hati bagaikan misteri tanpa henti, mengukirkan sebuah cerita penuh makna. Merangkai ungkapan-ungkapan yang tak...
-
Oleh: Herwiningsih Alunan syahdu yang menyapa hati bagaikan misteri tanpa henti, mengukirkan sebuah cerita penuh makna. Merangka...
Labels Cloud
Labels List Numbered
Video of the day
Mengenai Saya
Arsip Blog
Diberdayakan oleh Blogger.




